Tahukah anda bahasa Arab handphone (hp) ? Orang Arab, jika menyebut hp mereka memakai istilah jawwal. Entah, apakah dengan kata itu kemudian diartikan sebagai benda yang bisa dibawa kemanapun saja, berkeliling semaunya, jalan-jalan, mengembara dunia suara, atau kata jawwal tadi mungkin juga sudah baku digunakan sebagai bahasa Arab hp?
Konon, sewaktu teknologi telekomunikasi baru saja dikenal oleh bangsa Arab, sebagaian dari mereka kaget campur penasaran tatkala mendengar dan melihat ada benda mungil segenggaman tangan bisa bersuara, bisa diajak berbicara, ngobrol, bahkan bisa membantu manusia dalam mencari sejumlah informasi. Maklum, mereka belum pada memahami tentang benda mungil aneh bin ajaib yang belakangan dikenal dengan sebutan handphone tersebut. Lucunya lagi, orang badui yang gaptek, gagap teknologi, tulalit, plus purbakala, mereka menduga hp itu jinni, sejenis ilmu magic, atau keahlian yang diperoleh dari alam jin sana. Menggelikan kedengarannya?
Nah, beda halnya dengan pemahaman mereka yang sudah mengerti, sudah mengenyam pendidikan di sekolah dan berwawasan luas. Tidak heran jika kemudian hari ada salah seorang ulama' hadits yang menghubungkan temuan teknologi telepon seluler tersebut dengan tanda-tanda akhir zaman. Mengapa bisa begitu? Ingin tahu alasannya kenapa? Silahkan anda ikuti komentar Syekh Ahmad al-Ghumârî terhadap hadist Nabi saw. berikut ini.
وَالَّذِى نَفْسِي بِيَدِهِ, لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تُكَلِّمَ السِّبَاعُ الْإِنْسَ, وَحَتَّى يُكَلِّمَ الرَّجُلُ عَذَابَةَ سَوْطِهِ, وَشِرَاكَ نَعْلِهِ, وَتُخْبِرَهُ فَخْذُهُ بِمَا أَحْدَثَ أَهْلَهُ مِنْ بَعْدِهِ
"Demi Dzat Yang jiwaku berada dalam genggaman Tangan-Nya. Hari Kiamat tak kan terjadi sehingga binatang buas berbicara pada manusia, seseorang berbicara pada ujung cemeti dan tali sandalnya, dan pahanya memberitahu apa yang terjadi pada keluarga sesudahnya." (HR. Tirmidzi)
Menurut Syekh, disamping pemahaman tekstual terhadap hadits tersebut, bisa juga dipahami makna kontekstualnya. Nah, dari sini Syekh Ahmad al-Ghumârî memulai penjelasannya, bahwa keberadaan sirkus di dunia entertainment saat ini, dimana berbagai binatang buas, mulai dari singa, gajah dan sebagainya bisa berkomunikasi (tukallim) dengan manusia, menunjukkan berbagai aksi akrobatiknya. Kemudian munculnya teknologi telekomunikasi mulai dari semisal radio, ht (handy talky) yang berantena, pager, sampai hp yang bisa diletakkan di saku celana, menginformasikan keadaan keluarga di rumah saat kita tinggal bepergian. Plus, keberadaannya dalam kehidupan manusia yang menempati posisi cukup penting, dloruri, begitu akrab seperti halnya tali sandal yang kita pakai sehari-hari. Semua itu menurut Syekh bisa menjadi sinyalemen akan dekatnya hari Kiamat. Wallahu a'lam, kita tidak bisa memastikan kebenarannya. Karena pendapat Syekh tersebut hanyalah suatu tafsiran semata.
Sebagai produk elektronik, hp alias jawwal saat ini merupakan komoditas yang memberi keuntungan bisnis cukup besar bagi produsennya. Berbagai kiat pun dilakukan untuk merebut konsumen sebanyak-banyaknya, mulai dari kemasan sampai service yang ditawarkan, memiliki nilai jual dan daya saing yang signifikan. Salah satunya adalah dengan memberi nama-nama unik plus menarik pada setiap merek produk yang diluncurkan. Untuk di negara Arab saja sudah ada beberapa nama merek yang cukup dikenal oleh para konsumen disana. Ada merek Panda, Dam'ah (tetes air mata), N-70, dan "Setan" (Nokia 6630). Nah, untuk merek yang terakhir ini, kayaknya kita perlu membahasnya (memang rada aneh juga di telinga?!).
Kata "Setan" bagi orang Arab tidak hanya digunakan untuk menyebut jenis makhluk yang durhaka kepada Tuhan. Tapi, ia juga lumrah digunakan untuk menyebut orang yang cerdik, pandai, dan piawai, atau bisa juga untuk menyebut benda yang memiliki kecanggihan cukup tinggi semisal jawwal tadi. Mungkin saja pihak produsen jawwal merek "Setan" tersebut menamakan produknya demikian, untuk mengundang rasa penasaran dan ketertarikan dari para konsumennya. Namun, diluar bahasan seputar ekonomi, bisnis, produk, komoditi, dan berbagai hal lain, sebenarnya pilihan kata "Setan" itu ternyata memberi makna khusus buat kita renungkan!
Jawwal yang pada mulanya sebagai media komunikasi, silaturrahmi, dan bahkan dakwah, suatu saat bisa saja benar-benar berubah fungsi menjadi setan dengan bermakna sebagai jenis makhluk yang durhaka. Tidak jarang kita temukan di berbagai majelis, forum, dan tempat ramai lainnya. Para pemilik jawwal, minus bahkan sama sekali tidak memahami tentang adab mu'âsyarah (interaksi) antar manusia, khususnya sesama muslim.
Jika demikian, bisa rumit jadinya! Dan jika tidak peduli dengan urusan yang seperti ini, sama saja tak berperadaban! Padahal disana ada tatakrama, ada aturan hidup bermasyarakat (jika ingin tidak memakai aturan, maka hutan rimba adalah tempat yang yang layak buatnya). Lebih parah lagi, saat berada pada situasi yang cukup sakral – sebut saja saat ibadah shalat berjamaah misalnya – mereka juga melupakan dan meninggalkan etika semua itu. Suara berisik yang berasal dari jawwal, mungkin bagi pemiliknya tidaklah bermasalah. Apalagi bila suara itu berasal dari ringtone kelompok musik terkenal, vokalis idola, atau tembang terbaik bulan ini. Tapi buat orang lain, tetangga yang di dekatnya, saudara sesama muslim secara khusus, tentu hal itu cukup mengganggu, mengusik, bahkan menyinggung perasaan. Bayangkan saja,
jika kita sedang shalat berjamaah, tepat pada saat kondisi khusyu', konsentrasi, tiba-tiba ringtone jawwal seseorang berbunyi. Tidak lucu, bukan? Bayangkan saja, saat takbir, tahmid, tasmi' dan tahlil dikumandangkan, tiba-tiba berbarengan dengan itu… tang-ting-tong… nang-ning-nong… suara musik pop, dangdut, rok, dan seabrek lainnya turut serta, menyela kesyahduan beribadah. Byurrr… kacaulah shalatnya!
Disadari atau tidak, jawwal yang dibawa oleh pemiliknya, saat itu benar-benar sudah bermerek "Setan".
Wash our face! Setiap manusia punya tanggung jawab, dan setiap manusia pasti akan dimintai pertanggunganjawab. Harta benda adalah amanat atas pemiliknya, dan amanat itu pasti akan dimintai pertanggunganjawabnya. Bukankah kelak manusia akan ditanya tentang setiap ni'mat yang telah diberikan Allah kepadanya. Tentang ni'mat dunia yang telah menyibukkan, hingga melalaikan diri dari mengingat dan beramal untuk akhiratnya. Setiap ni'mat, apapun wujudnya, kelak pasti akan dimintai pertanggunganjawab.
ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ
"Kemudian pasti kamu sekalian akan ditanyai pada hari itu (hisab) tentang keni'matan." (QS. At-Takâtsur: 8)
Maka, sungguh berbahagialah orang-orang yang menjaga amanatnya dengan sebaik-baik mungkin.
WAA. Ibrahimy
Makkah, 9 Desember 2009 M.
Marâji' :
1. Mausû'ah al-Qur'ân al-Muyassarah, Dâr al-Fikr, Beirut.
2. Tuhfah al-Ahwadzy Syarh Sunan al-Tirmidzî, Imam al-Mubârakfûrî.
3. al-Ahâdîts al-Nabawiyyah Limâ Akhbara bihi Sayyid al-Bariyyah, Syekh Ahmad al-Ghumârî.
4. al-Qâmûs al-Muhîth, Fairuzabâdî.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar