Senin, 04 April 2011
Doa waktu sujud
Doa sebelum salam dalam sholat
اَللَّهُمَّ اِنِّىْ ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيْرًا كَبِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ فَاغْفِرْلِىْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِى اِنَّكَ اَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Yaa Allah, sesungguhnya saya menganiaya diri saya sendiri dengan aniaya yagg banyak dan besar. Tidak ada yang bisa mengampuni kecuali Engkau Yaa Alloh. Maka ampunilah dosa saya dengan pengampunan yang Kau punya. Kasihanilah saya, sesungguhnya Kau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Jumat, 11 Februari 2011
Bagaimana Wanita Muslimah Berhias
Tentunya bagi seorang wanita muslimah dalam berpakaian memiliki perbedaan dengan wanita-wanita jahiliyah baik dari visi atau polanya. Jika para wanita jahiliyah terlalu berlebihan di dalam berpakaian, hingga sebagian besar waktunya untuk memikirkan pakaian dengan segala asesorisnya, maka bagi seorang wanita muslimah tentunya harus memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditentukan oleh syara’ serta sesuai dengan kepantasan, dan tidak berlebihan. Dan bagi seorang muslimah berpakaian merupakan kesadaran uluhiyyah (karena perintah Alloh dan Rasul-Nya).Di antara kiat-kiat memakai perhiasan bagi seorang wanita muslimah adalah:
1.Menata niat ketika akan berpakaian. Bagi seorang muslimah, memakai pakaian semata-mata bertujuan untuk menutup aurat wanita, menjaga kehormatan, melindungi diri dari pandangan lelaki asing dan untuk menjaga etika (nilai kesopanan). Sebagaimana firman Alloh SWT:
”Hai anak Adam, Sungguh Kami telah menurunkan untuk kamu pakaian yang dapat menutup aurat-aurat kamu dan untuk perhiasan.” (QS Al-A’raf : 26).
Pakaian termasuk salah satu dari perhiasan wanita. Karena dengan pakaian, seseorang akan kelihatan indah dan enak dipandang. Bayangkan jika seorang wanita cantik tidak mengenakan pakaian(alias telanjang bulat) di depan umum. Tentu akan menjadi bahan gunjingan orang-orang yang melihatnya, apakah dia orang yang waras atau gila. Oleh karena itu, seorang wanita muslimah akan selalu menutup auratnya dalam berpakaian karena dia tahu bahwa itu adalah perintah Alloh dan Rasul-Nya yang jika dilaksanakan akan mendatangkan maslahat yang besar baik di dunia maupun di akhirat (pahala). Dan ia tahu bahwa hal itu merupakan kehormatan bagi seorang muslimah. Dalam banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits telah dijelaskan wajibnya mengenakan jilbab bagi seorang wanita muslimah. Yaitu menutup seluruh tubuh (menurut Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Asy-Syafi’I dan Imam Malik), kecuali muka dan telapak tangan (menurut Imam Hanafi).
2.Dalam berpakaian menggunakan kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh syara’. Misalnya, seorang muslimah memakai pakaian yang sesuai dengan syara’, misalnya menutup aurat, pakaian longgar sehingga tidak kelihatan lekuk-lekuk tubuhnya, tidak menyerupai laki-laki dan wanita ahli kitab.Rasulullah SAW bersabda:’Ada dua golongan manusia dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya, yaitu (1).Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa dhalim). (2).Perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan dapat masuk surga, dan tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.” (HR Muslim).
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda:
لَعَنَ الله الْمُتَشَبِهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ وَالْمُتَشَبِهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ (رواه أحمد )
”Alloh melaknat kaum wanita yang menyerupai lelaki dan kaum lelaki yang menyerupai kaum wanita.” (HR Imam Ahmad).
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Malikah bahwa dia berkata:”Ditanyakan kepada Aisyah; Bolehkah wanita mengenakan sandal lelaki?” Dia menjawab:”Rasulullah benar-benar telah mengutuk wanita yang menyerupai lelaki.” (HR Abu Dawud)
Ibnu Umar ra pernah meriwayatkan:
رَأَى رَسُوْلُ الله عَلَيَّ ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَالَ: إنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسْهَا
”Bahwa Rasulullah SAW pernah melihat aku memakai dua pakaian yang dicelup dengan ashfar, maka Nabi bersabda:”Ini adalah pakaian orang-orang kafir, oleh karena itu jangan kamu pakai dia.”(Al-Halam wal-Haram, Yusuf Al-Qardhawi).
Ashfar, menurut Al-Qardhawi adalah winter berwarna kuning yang biasa dipakai untuk mencelup pakaian-pakaian wanita di zaman itu. Termasuk pakaian wanita kafir adalah pakaian yang khusus dipakai oleh kalangan wanita ahli kitab yang terkait dengan akidah dan syariat. Pakain-pakaian tersebut sebaiknya tidak dikenakan oleh wanita muslimah.
3. Tidak memakai pakaian secara berlebihan. Termasuk dalam kategori berlebihan di antaranya adalah harganya terlalu mahal sekalipun diperbolehkan, misalnya memakai sutera, sehingga dapat menimbulkan kesombongan bagi yang memakainya. Penggunaan pakaian secara berlebihan sehingga menimbulkan kesombongan tentunya dilarang oleh Islam. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ الله إلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
”Barangsiapa melabuhkan kainnya karena kesombongan, maka Alloh tidak akan melihatnya nanti di Hari Kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Jadi belilah pakaian yang harganya wajar menurut ukuran umum. Termasuk berlebihan juga , memakai pakaian yang kelihatan terlalu norak warnanya sehingga dapat menjadi pusat perhatian orang lain yang melihatnya. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ ألْبَسَهُ الله ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
”Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Alloh akan memberikan pakaian kehinaan nanti di Hari Kiamat.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasa’I).
Ada laki-laki yang bertanya kepada Ibnu Umar tentang pakaian apa yang harus dipakainya? Jawab Ibnu Umar ra:”Yaitu pakaian yang kiranya kamu tidak akan dihina oleh orang-orang bodoh dan tidak akan dicela oleh kaum filosifis (intelektual).” (HR Ath-Thabrani).
Rasulullah SAW bersabda:”Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena kesombongan , maka Alloh tidak akan memandangnya kelak di Hari Kiamat.” Lalu Ummu Salamah bertanya:”Lantas bagaimana yang harus diperbuat kaum wanita dengan ujung pakaian mereka?” Rasulullah SAW menjawab:”Mereka harus menurunkannya sepanjang satu hasta.” Dia berkata:”Kalau begitu, telapak kakinya akan terbuka.” Rasulullah SAW bersabda:”Maka mereka harus menurunkannya sepanjang sejengkal, dan tidak boleh lebih dari itu.” (HR Tirmidzi dan An-Nasa’I).
Berdasarkan hadits tersebut, pakaian seorang muslimah hendaknya tidak berlebihan, memakai secara wajar[]
Senin, 07 Februari 2011
Peran Muslimah Sebagai Pencetak Generasi Masa Depan
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Alloh menciptakan istrinya dan daripada keduanya Alloh memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak ..." (QS An Nissa': 1)
Merupakan sunatullah bahwa diciptakannya manusia berpasang-pasangan untuk saling membantu dan bekerjasama dalam menjalani hidupnya. Dari dua jenis manusia ini Alloh memperbanyak jumlah manusia. Aktifitas ini sekaligus dinilai sebagai ibadah oleh Alloh jika manusia melakukannya dengan niat yang benar dan sesuai syari'at.
Dan alangkah indahnya apabila generasi yang dihasilkan adalah generasi yang baik yang akan menegakkan kalimat Alloh di bumi ini. Kita perlu mempersiapkan generasi islam masa depan yang mampu menghadapi tantangan perubahan jaman yang semakin hari mewarnai kehidupan masyarakat Islam. Kehadiran teknologi modern dan pergeseran gaya hidup masyarakat menambah urusan tugas yang harus ditangani oleh pencetak generasi masa depan. Siapa lagi kalau bukan muslimah sebagai ibu yang melahirkan mereka?
Kehancuran tatanan kehidupan masyarakat adalah ancaman yang harus dihadapi. Karena memang begitulah kenyataannya. Masyarat telah memilih dan memang dikondisikan untuk bergaya hidup materialistik akibat suksesnya penerapan paham kapitalis. Berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini, muslimah sebagai pendidik generasi masa depan harus ekstra waspada dalam membimbing dan mengarahkan putra-putrinya agar tetap konsisten dengan aturan Islam dan tetap merasakan kehadiran keluarga serta tidak merasa diterlantarkan.
Kita melihat bahwa kehadiran teknologi modern telah sedikit banyak menggantikan peran orangtua dalam mendidik anaknya. Anak-anak banyak mendapatkan pengetahuan dari TV yang notabene banyak dimasuki nilai-nilai diluar Islam. Fenomena yang terjadi sekarang ini, sangat jarang orang tua yang mengantarkan tidur anaknya dengan bercerita, misalnya tentang pahlawan Islam. Sehingga ruang diskusi antara anak dan orang tua juga semakin sempit. Atau fenomena lainnya, jarang melakukan silaturahmi ke sanak famili karena merasa sudah cukup hanya dengan berbicara melalui telepon.
Untuk mencetak generasi masa depan, kita harus kembali merujuk kepada satu-satunya alternatif rujukan hidup kita yaitu Al Qur'an dan As Sunnah. Muslimah harus menyadari perannya sebagai manusia yang ditakdirkan memiliki semua hal yang ada pada diri wanita dan mempunyai pengaruh yang besar untuk generasi yang dilahirkannya. Masalahnya, tidak semua wanita menyadari hal itu. Untuk menjadi sosok muslimah yang diandalkan dalam membentuk generasi masa depan memerlukan bekal ilmu yang tidak sedikit. Hal ini seringkali tidak memdapat perhatian yang serius, baik dari kalangan pendidik maupun muslimah itu sendiri. Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Lalu bagaimana mungkin sebuah sekolah dapat mendidik muridnya, bila sekolah tersebut tidak memiliki gudang ilmu. Apa yang akan diajarkan pada mereka? Itulah gambaran seorang muslimah sebagai ummahat bagi generasi masa depan.
Pemikiran tradisional yang mengatakan bahwa tugas wanita yang sudah berumah tangga hanya sebagai "teman belakang" laki-laki, seringkali masih tertanam di benak muslimah dan masyarakat pada umumnya. Akibatnya, ada masyarakat yang berpendapat bahwa untuk mengurusi rumah tangga dan mengerjakan berbagai tugas rumah tangga tidak memerlukan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Padahal menghasilkan generasi masa depan yang baik termasuk salah satu tugas dan justru yang terpenting.
Menurut Imam Ghozali, kaum wanita tidak cuma harus tahu urusan agama seperti sholat, puasa, dan urusan ibadah lainnya, tetapi juga urusan lain yang lebih luas daripada urusan laki-laki. Antara lain menyangkut kebudayaan Islam di bidang hukum, adab, akhlak, pendidikan anak, perlakuan terhadap suami dan perilaku lainnya yang baik.
Mendidik anak ada ilmunya dan orang tua terutama ibu sangat berperan di dalamnya. Apalagi dengan gejolak perkembangan jaman seperti sekarang ini. Karena dari rumahlah mereka pertama kali mendapat pengetahuan yang diberikan oleh orangtuanya. Maka jika wanita yang sudah ditugasi sebagai ibu juga bekerja di luar rumah, akan banyak sekali waktu yang terbuang sehubungan dengan perannya mendidik anak dan generasi masa depan yang baik juga kecil kemungkinannya untuk terwujud. Al Qur'an mengatakan bahwa tempat wanita adalah di rumah. "dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu behias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Alloh dan RasulNya ..." (QS Al Ahzab: 33). Maksud dari 'tetap di rumah' adalah perintah pada istri-istri Nabi untuk tidak keluar rumah kecuali bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'. Tapi perintah ini juga meliputi segenap mu'minat, tidak hanya istri-istri nabi.
Hikmah yang dapat kita ambil diantaranya bahwa untuk mencetak generasi masa depan yang baik memang dimulai dari rumah dengan orangtua sebagai pendidik sebelum nantinya mereka terjun ke masyarakat. Muslimah sebagai pendidik diharapkan dapat merespon segala fenomena yang dialami anak di luar rumah, agar anak tetap terarah dalam kerangka kehidupan yang Islami. Tugas ini tidak mudah dan harus diimbangi dengan adanya wadah bagi muslimah untuk mendapatkan pendidikan dan tambahan ketrampilan sekaligus dapat mengaplikasikan untuk keluarganya. Wadah tersebut harus kondusif dengan segala keterbatasan gerak muslimah. Sehingga potensi-potensi yang ada pada diri muslimah dapat teraktualisasi tanpa terbentur kondisi dan situasi.
Harus ada kerjasama yang baik antara suami dan istri dalam mendidik anak. Di sinilah peran muslimah sebagai manajer rumah tangga yang merencanakan, mengelola berbagai tugas, mengaktualisasikan serta mengendalikan jalannya rumah tangga agar tidak menyimpang dari aturanNya, selaran dengan tujuan keluarga dan kebijakan-kebijakan suami sebagai direktur rumah tangga sehingga tercetak generasi yang baik sesuai Al Qur'an dan As Sunnah.
Pesan untuk muslimah calon ummahat, banyak-banyaklah menuntut ilmu dan setelah menjadi ummahat, jangan berhenti mencari ilmu.
Wallahua'lam bishowab.
Jumat, 21 Januari 2011
Khotbah Monumental Syaitan Terlaknat
Pada hari ketika bumi bukanlah seperti bumi yang pernah kita pijak, dan langit bukanlah seperti langit yang pernah menaungi kita. Jin dan manusia, semua berkumpul menghadap ke hadirat Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Pada hari ketika amal perbuatan para pengingkar laksana abu yang ditiup angin dengan keras di suatu hari yang berangin kencang. Mereka tak dapat sedikitpun mengambil manfaat dari apa yang telah mereka usahakan di dunia. Pada hari ketika perkara hisab, perhitungan amal, usai diselesaikan; hari itu berkatalah syaitan, menyampaikan khotbah monumentalnya yang telah disebutkan al-Qur'an; khotbah tanpa menyebut nama Tuhan, tanpa pujian, dan tidak juga salam.
"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan sekedar aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku, akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian, dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku dengan Allah sejak dahulu!" (lihat QS. Ibrahim: 22)
Tercenganglah mereka yang mendengar, mereka yang selama ini mematuhi seruannya nan sungguh menipu daya. Khotbah teramat mengecewakan, bahkan menyakitkan hati para pengikutnya yang setia.
Maka, episode berikutnya, hari itu terlihatlah mereka, orang-orang yang berdosa, para bromocorah, diikat bersama-sama dengan belenggu, yang gemerincingnya sungguh menggetarkan jiwa. Pakaian mereka adalah dari pelangkin, dan muka mereka ditutup oleh api neraka.
Hari itu, terdengarlah seruan agung, "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat yang tedahulu sebelum kalian, dari jin dan manusia!"
Kemudian, ketika setiap suatu umat masuk ke dalam neraka, maka yang satu mengutuk yang lain karena merasa disesatkan; sehingga apabila mereka masuk semuanya, terjadilah perdebatan teramat dahsyat antara orang-orang yang masuk kemudian dan mereka yang masuk terdahulu.
Mereka yang merasa disesatkan berkata, "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka!"
Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa berfirman, "Masing-masing mendapat siksaan yang berlipat ganda, akan tetapi kalian tidak mengetahui."
Demi mendengar hal itu, menyahutlah orang-orang yang masuk terdahulu, sambil menatap mereka yang masuk kemudian, "Kalian tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kalian lakukan!"
Sungguh perdebatan yang sengit sekaligus keputusan yang teramat menyesakkan dada. Tak ada lagi harapan bagi mereka dibukakan pintu-pintu langit, dan tak kan mungkin pula mereka memasuki taman-taman indah surgawi, sebagaimana mustahil seekor unta masuk ke lobang jarum. Demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan; yang tersisa bagi mereka hanyalah tikar tidur dari api neraka, dan di atasnya pula ada selimut api neraka.
Di pelataran agung yang lain, mahsyar bagi orang-orang beriman dan beramal saleh, terlihatlah mereka, dengan seizin Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dimasukkan ke dalam surga, hunian taman-taman indah yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, dan tak pernah terlintas di dalam hati, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Ucapan penghormatan mereka dalam taman abadi itu adalah "salam", sejahtera dari segala bencana. Sejak hari itu tak ada lagi segala macam dendam yang berada dalam dada, dan mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada surga ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang para rasul Tuhan kami, membawa kebenaran."
Ketika itulah saat paling bahagia bagi mereka yang telah memasrahkan seluruh hidupnya kepada aturan Tuhan, usai melalui prosesi hisab, penghitungan amal yang begitu mencemaskan. Saat penuh suka cita menjelang hunian keabadian, hari itu diserukan kepada mereka, "Itulah surga yang diwariskan kepada kalian, disebabkan apa yang dahulu kalian amalkan!"
Pintu-pintu cahaya telah dibuka, wajah-wajah bercahaya telah mengembangkan senyum ceria, penuh bahagia. Cahaya di dalam hati mereka, cahaya pada ucapan mereka, cahaya pada pendengaran mereka, cahaya pada pikiran mereka, cahaya pada perasaan mereka, dan cahaya pada setiap bagian tubuh mereka. Merekalah orang-orang yang tercerahkan.
Allahumma, berilah cahaya…
Ust. Waa Ibrohimy
Jumat, 07 Januari 2011
Wanita sebagai Fitnah
Allah berfirman:
فَدَلّهُمَا بِغُرُوْرٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا ...
“ Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya... QS al A’raaf: 22.
Redakasi ayat menunjukkan bahwa aurat Adam dan Hawwa baru terbuka ketika kedua-duanya telah mencicipi dari pohon larangan. Disebutkan bahwa yang pertama kali memakan adalah Adam atas dorongan Hawwa’. Said bin Juber meriwayat dari Ibnu Abbas ra: [Ketika Adam memakan dari pohon larangan maka ditanyakan kepadanya, “Mengapa kamu memakan pohon yang Aku melarangnya?” Adam menjawab: “Hawwa’ lah yang menyuruhku”...]
Dalam salah satu wasiat kepada anak-anaknya, Adam as bersabda: “....Jangan kalian melaksanakan pendapat para wanita kalian karena sesungguhnya aku melaksanakan pendapat Hawwa’ hingga lalu memakan dari pohon (larangan), maka dirikupun menyesal...”
Kasus ini memberikan pelajaran bahwa sejak awal kehidupan, wanita (isteri) di samping sebagai sumber ketenangan dan tempat berbagi suka duka, akan tetapi pada suatu saat bisa berubah menjadi sumber fitnah dan kehancuran bagi suami. Ini memberikan gambaran betapa lelaki gagah dan tangguh bisa berubah menjadi manusia lemah tidak berdaya di hadapan keinginan isterinya. Ini adalah peringatan bagi suami agar rasa sayang kepada isteri tidak menjadikannya lupa akan prinsip-prinsip yang selama ini dianutnya. Juga sekaligus peringatan bagi isteri supaya menjaga diri agar jangan sampai menjadi energi negatif bagi suami. Betapa banyak kisah masa lalu yang menggambarkan peran isteri dalam kehancuran suaminya. Sebagaimana kisah Bal’am bin Baura’ yang akhirnya meninggal su’ul khatimah karena menuruti permintaan isterinya. Kisah al Hasan bin Ali radhiyallahu anhumaa yang meninggal dunia akibat diracun isterinya.
Dalam hal ini Alqur’an telah memberikan peringatan bahwa isteri suatu saat bisa menjadi musuh bagi suaminya sendiri. Allah berfirman:
يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ
“Hai orang–orang beriman sesungguhnya sebagian dari isteri – isterimu dan anak – anakmu adalah musuh bagimu maka waspadailah mereka!”QS at Taghaabun: 14.
Ibnu Abbas ra: “Orang – orang beriman yang dimaksud adalah para lelaki Makkah yang telah masuk Islam dan tidak jadi berhijroh ke Madinah karena permintaan anak dan isteri mereka” kepada mereka para isteri berkata, “Kami rela engkau memeluk islam tetapi kami tak mungkin berpisah dengan engkau” akhirnya mereka tidak jadi berhijroh hinga turunlah firman Alloh di atas. Atho’ bin Yasar berkata: Ayat ini turun dalam kasus Auf bin Malik al Asyjai ra yang setiap kali hendak pergi berperang maka isteri dan anaknya menangis dan memelas dengan mengatakan, “Kepada siapa engkau akan meninggalkan kami” Malik pun luluh dan tak sampai hati hingga dia tidak jadi turut serta dalam peperangan. Dalam kasus ini benarlah apa yang pernah dikatakan oleh seorang Napoleon: “Air mata wanita tak ubahnya seperti pedang tajam yang terhunus dan siap memotong apa saja”
Disebutkan bahwa puteri semata wayang Fir’aun menderita belang yang cukup parah dan oleh para tabib dan ahli sihir dinyatakan bahwa obat dari belang ini tiada lain adalah air liur seorang bayi yang akan ditemukan di lautan pada hari ini, bulan ini dan waktu ini. Pada waktu yang ditentukan, Fir’uan, Asiyah binti Muzahim isterinya dan puterinya bersama para pengawal berwisata dan bersenang–senang di pantai. Tak lama kemudian mereka melihat sesuatu yang kecil mendekat dan semakin mendekat dan ternyata sebuah peti kayu kecil. Peti itupun berusaha dibuka oleh semua orang dan ternyata tak ada yang bisa membukanya selain Asiyah. Melihat bayi mungil yang lucu dengan wajah bercahaya, Asiyah kontan jatuh cinta dan begitu pula Fir’aun. Sementara itu puteri Fir’aun segera mengambil air liur si bayi dan mengusapkannya pada belangnya dan ternyata belang itupun hilang seketika. Menyaksikan hal ini, para pengawal Fir’aun yang jahat segera mengingatkan Fir’aun, “Wahai paduka, kami khawatir bayi inilah yang kelak akan menjungkalkan anda” masukan ini diterima oleh Fir’aun hingga ia kemudian memerintahkan supaya bayi ini dibunuh. Asiyah yang sudah terlanjur jatuh hati segera memohon agar bayi ini tidak dibunuh seperti dikisahkan oleh Alqur’an:
وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِيْ وَلَكَ , لاَ تَقْتُـلُوْهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَـنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا...
“Dan berkatalah isteri Fir’aun: (Ia) adalah penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya.mungkin sekali ia bermanfaat
Kendati Fir’aun membantah, “Mungkin bagimu ia menjadi penyejuk mata, tetapi bagiku tidak” akan tetapi ia sama sekali tidak berdaya menolak permohonan isterinya. Betapapun ini semua adalah kehendak dan takdir Allah, akan tetapi secara akal bisa dikatakan bahwa andai saat itu Fir’aun tidak menuruti permintaan isterinya tentu cerita perseteruannya dengan Nabi Musa as serta tenggelamnya fir’aun di tengah lautan tidak akan pernah ada. Wahai para suami, waspadalah. Jangan sampai nasib Nabi Adam as, Bal’am bin Baura’, al Hasan bin Ali ra dan Fir’aun menimpa anda. Ingatlah selalu pesan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Tak aku tinggalkan fitnah setelahku di kalangan manusia yang lebih berbahaya bagi para lelaki melebih kaum wanita” Muttafaq Alaihi.
Rabu, 30 Juni 2010
PINTU-PINTU RIZQI
Tumbuh-tumbuhan, hewan, dan aneka tambang (apa-apa yang ada di perut bumi), semuanya untuk manusia, tapi manusia masih membantah tentang keberadaan Alloh.
Nikmat Alloh yang lain adalah rizqi (lahir maupun batin):
1. Khissiy (bil iktisaab/dzoohiroh), maupun
2. Maknawiy (bil ihtisaab.biththonah)
Nikmat itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus didapatkan dengan usaha, harus menjemputnya, tanpa itu tidak akan mendapatkan.
Perbuatan maksiat bisa menghilangkan nikmat Alloh.
Semua makhluk Alloh tidak akan ada yang kelaparan di dunia ini, baik itu semut, kutu dll, karena semua rizkinya sudah diatur Alloh. Kalaupun dia lemah seperti bayi, Alloh tetap memberi rizqiNya.
Kebanyakan manusia banyak mencari rizqi bil iktisab (dengan dhohir), padahal ada rizqi yang tidak harus didapatkan dengan cara dhohir, tapi bisa diperoleh dengan cara bathin.
Seperti nikmat bathin yang berupa sakinah (rasa ketentraman), karena ini salah 1 rahmat Alloh.
Kita tidak dapat menghitung rahmat Alloh. Sekiranya ada 100 Rahmat Alloh, hanya 1 yang diturunkan ke dunia, sedangkan yang 99 masih ditangguhkan di akhirat…. Subhanalloh, tidak bisa kita bayangkan betapa besar nikmat Alloh di akhirat kelak, apakah mungkin termasuk dikabulkannya semua doa-doa kita???.
Tentang rizqi dhohir, tidak terlepas dari firman Alloh:
“Apakah mereka yang membagi rahmat Tuhanmu?”
Kami (Alloh) yang membagi antara jiwamu” ----> bahkan seluruhnya Alloh yang membagi
“Dan kami angkat yang satu lebih tinggi dari pada yg lain"----> ada yg dilapangkan, ada yg disempitkan
Contoh : direktur (dlapangkan rizqinya)– karyawan (dsempitkan rizqinya)
Majikan – pembantu
Mandor – kuli
Disempitkan bukan berarti kurang, karena Alloh tidak pernah mengurangi apa2 yg telah dberikan. Adapun perasaan kurang itu dari manusia sdri karena tidak bisa bersyukur (tidak bisa memanfaatkan yang ada).
Padahal menurut Alloh rizqi segitu untuk si fulan sudah baik. Kebanyakan itu bukan dengan banyak harta, tapi karena banyak berkahnya…
QS 90 : 4
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
Rizqi yang diperoleh secara dhohir
Untuk ukuran manusia, semuanya (pekerjaan) sh dibagi oleh Alloh. Betapa sabarnya pak sopir, tukang batu dll. Itu yg dimaksud rizqi yg diperoleh scr dhohir. Sementara rizqi bisa dperoleh secara bathin. Dan pintunya/jalannya byk sekali
RIZQI YANG DIPEROLEH SECARA DHOHIR
Semua (pekerjaan) yang dilakukan oleh manusia sudah dibagi oleh Alloh. Seperti yang kita lihat sabarnya sopir, tukang batu dsb.
Itulah rizqi yang diperoleh secara dhohir dan kebanyakan oleh penduduk Indonesia (90% lbh)
Sementara rizqi yang lain bisa diperoleh secara bathin. Artinya janganlah kita hanya mencari rizqi secara dhohir, tanpa memperhatikan bathin. Dimana pintu secara bathin ini banyak sekali.
Beberapa pintu Rizqi yang diperoleh secara bathin
1. SYUKUR
لَئِن شَكَرتُم لَأَزيدَنَّكُم وَلَئِن كَفَرتُم إِنَّ عَذابى لَشَديدٌ
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih
Jadi syaratnya harus bersyukur
contoh :
Bisa jadi yang diperoleh itu-itu saja, tetapi tetap syukur
Nggak akan pernah bilang : "wahh kq cuma segini .........."
> Kalau dapat sedikit, selalu mengucapkan "Alhamdulillah, dari pada tidak dapat..."
> Kalau belum dapat, mengucapkan : "Alhamdulillah, yang penting sehat..."
> Kita tidak perlu mengerti bagaimana caranya Alloh menambah rizqi bagi hambaNya yang bersyukur. > Kita juga tidak perlu menanyakan apa pekerjaannya... berapa hasilnya dari saudara kita yang
mendapatkan rizqi.
Bagi orang kaya, ukuran kesyukuran (yang menunjukkan bahwa dia bukan termasuk orang yang cinta dunia) adalah berinfaq/bershodaqoh 1/2 dari yang diperolehnya
Untuk sahabat ukuran kesyukurannya adalah:
jika mereka kaya, maka infaqnya dari apa-apa yang mereka cintai
jika mereka biasa, infaqnya separoh dari hartanya
jika mereka fakir, tidak punya sama sekali, masih tetap bisa memikirkan orang lain
Sampai Rosululloh mengatakan: "1 dirham mengalahkan 100 dirham". Ketika ditanya "Mengapa demikian yaa Rosululloh?", Rosululloh menjawab : "Karena 1 dirham keluar dari 2 dirham, sedangkan 100 dirham keluar dari 1000 dirham"
Subhanalloh... semoga kita bisa meniru infaqnya sahabat... amiin
2. Sholat Dhuha
Urusan bathin adalah urusan hati. Oleh karena itu berilah pekerjaan pd hati, yang sesuai dengan hatinya, agar terasa dekat kepada Alloh. Artnya untuk memperoleh rizqi secara bathin harus mendekatkan diri pd Alloh
Sholat dhuha termasuk penyebab dibukanya pintu rizqi, sebab di sini menandakan bersyukurnya kita dengan aturan Alloh.
Para sahabat adalah singa di siang hari (pekerja keras, tidak ada yang malas), tetapi bagai rahib2 di malam hari. Maka ketika mendapatkan rizqi tidak disangka sangka darimana datangnya
( مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْ تَسِب )
contohnya sahabat :
- Jabir Bin Abdulloh punya rumah 22
- Fulan punya 40.000 dinar (1 dinar = 1.400.000)
sesuai dengan janji Alloh
وَأَسبَغَ عَلَيكُم نِعَمَهُ ظٰهِرَةً وَباطِنَةً
dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin
sementara kaum muslimin sekarang kebanyakan meniru cara orang kafir dalam mencari rizqi (dimana orang kafir itu hanya في الدنياحسنة tanpa memperhatikan akhirat) dan malas dalam bekerja. Maka hasil yang didapat oleh kaum muslimin kebanyakan sekarang ini kalah dengan orang kafir. Sesuai dengan janji Alloh : "Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan hasilnya"
3. ISTIGHFAR
kalau perlu 100x setiap hari
مَنْ لَزِمً الإِ سْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ مِنْ كُلِّ ضَيْفٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَاجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِب (رواه ابوداود)
Barang siapa menekuni istighfar maka Alloh menjadikan baginya dari setiap kesempitan jalan keluar dan dari setiap kesusahan kesuksesan dan (Alloh) memberi rizki padanya dari jalan yg tak terduga (abu daud 1515)
Rosululloh yang tidak punya dosa, tetapi yang namanya hati kadang juga sumpek, maka Rosululloh minta ampun 100x setiap hari.
Dan ketika Sahabat Rosululloh yang ketika ludes dagangannya (bangkrut) oleh Rosululloh disuruh baca (setelah sholat fajar, sebelum sholat subuh)
سُبْحَانَ الله وبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله العَظِيْم اَسْتَغْفِرُ الله ×100
4. DOA
contoh : doa setelah adzan
Ada sebuah riwayat :
إذا نادى المنادي فتحت له أبواب السماء والستجيب الدعاء فمن نزل به كرب أوشدة فااليجب المنادي
"Jika adzan dikumandangkan dibuka untknya pintu-pintu langit dan di terima doa-doa maka barang siapa dtimpa kesusahan atau kesulitan maka jawablah tukang adzan (adzan)"
takbir ----> ikuti takbir
syahadat ----> ikuti syahadat
حَيَّ عَلَى الصَّلاَة ---> حَيَّ عَلَى الصَّلاَة
حَيَّ عَلَى الْفَلاَح -----> حَيَّ عَلَى الْفَلاَح
takbir -----> takbir
لاَ اِلَهَ الاَّ الله -----> لاَ اِلَهَ الاَّ الله
selanjutnya membaca doa : .......setelah adzan, kemudian minta kebutuhannya
5. BANYAK BACA SHOLAWAT
Insya Alloh segala kesusahan akan terselesaikan
6. SILATURRAHMI
7. BIRULWALIDAIN
8. NIKAH
Kalaupun fuqoro' maka akan diberi kecukupan, karena dengan nikah ada kesempatan untuk shodaqoh setiap hari kepada istrinya ----> maka akan diganti oleh Alloh, karena
إرحموامن في الأرض يرحمكم من في السماء
"kasih sayangilah penduduk di muka bumi maka Alloh akan mengasihinya"
Adapun untuk mendapat PINTU SAKINAH (Ketentraman) dengan jalan :
1. ISTIQOMAH
Dalam bekerjapun, jangan sampai masuk dalam pintu "kesusu"/tergesa-gesa. Hendaknya seperti air mengalir
kapan kricikan, kapan grojogan
Kata malaikat :
لاَ نَخَاف وَلاَ تَحْزَن
janganlah takut dan jangan kuatir
2. DZIKIR
واذكرواالله كثيرا لعكم تفلحون
Dan sebutlah Alloh banyak2 agar kamu beruntung
Amalkan dzikir di pagi hari, dzikir d malam hari, menyebut Alloh yang banyak dimulai dari lisan
Ulama' : "Siapa yang menetapi wirid, berarti berdzikir dengan banyak."
3. BACA AL QUR'AN
Alloh tidak akan menyiksa hati yang membaca Al Qur'an menurunkan nur Alloh di rumah dengan baca Al Qur'an setiap hari. Ukurannya : Al Qur'an sebagai kalamulloh
قد جاء كم نور وكتاب مبين
Al Qur'an ibaratnya juga sebagai 'ambeng' atau suguhan
Hadits Qudsi :
"Barangsiapa yang disibukkan sengan membaca Al Qur'an sampai tidak sempat meminta, maka akan Aku beri dia lbh utamanya orang yang meminta
Jadi kalaupun maqom kita harus mencari rizqi secara dhohir, jangan sampai lupa untuk mendapatnya pula melalui pintu-pintu secara bathin....