Keakhwatan

mutiara hikmah

Sabtu, 19 Juni 2010

Mengangkat hidung

by waa Ibrahimy


Kalimat di atas merupakan adagium yang sering digunakan orang Arab untuk menunjukkan rasa jijik atau congkak akan sesuatu. Bisa sekedar ucapan atau bahkan ekspresi yang ditunjukkan dengan sikap perbuatan. Syamakha 'anfahu, mengangkat hidung, tak ubahnya mengangkat bahu atau mencibir dalam tradisi yang kita kenal.

Ada banyak bahasa tubuh yang dapat menggambarkan isi batin kita, perasaan atau emosi kita. Bahkan kesan yang dimunculkan sering kali lebih menekan dari sekedar ucapan kata-kata saja. Seorang yang sedang mencaci, memaki, atau menghina merasa tak puas bila tanpa disertai tudingan jari telunjuknya ke arah lawan, atau juga seorang yang sedang bergembira karena mendengar berita suka cita merasa tak cukup dalam mengekspresikan kegembiraannya bila tanpa mengubah raut wajah, meng-angkat alis dengan mulut terbuka misalnya. Dan sekian banyak lagi contoh bentuk tubuh lainnya yang bisa mewakili perasaan.

Dari sekian ragam cara untuk mengungkapkan isi batin sebagaimana di atas, ada yang perlu kita waspadai dan patut dihindari. Di saat kita tak lagi pandai menjaga emosi, mungkin dari salah satu bahasa yang kita gunakan – baik itu bahasa lisan maupun tubuh – akan mengakibatkan ketersinggungan yang mendalam pada diri saudara kita sesama muslim, memicu konflik yang membuat keretakan ukhuwah Islamiah, dan itu sangat tidak kita harapkan.

Salah satunya adalah sikap gembira atas bencana yang menimpa saudara kita dengan menyimpan dendam, rasa benci yang dalam kepadanya – secara diam-diam sangat mungkin hal itu terjadi. Bukankah Baginda Nabi saw. sendiri yang telah melarangnya. Dalam sabda beliau yang artinya,
"Jangan kamu tampakkan rasa gembira atas bencana yang menimpa saudaramu di hadapannya, maka Allah akan merahmatinya dan akan mengujimu." (HR. Tirmidzi)

Bila hal itu kita lakukan, maka Allah lebih memihak orang yang tertimpa bencana dari pada kita, Dia akan menyayangi orang itu, dan sebaliknya kita akan diuji oleh-Nya. Meski sebelumnya orang yang tertimpa musibah tersebut menyakiti kita, melakukan kezaliman atas diri kita, bagaimanapun juga tak pantas kita berbahagia atas penderitaan yang dialaminya. Karena dia adalah saudara kita dalam agama. Ini adalah keluhuran akhlak Islam. Mungkin kita akan bertanya, bagaimana jika kita melakukannya secara tak sengaja, spontan tanpa terkendali. Padahal sulit sekali untuk menghindarinya? Untuk masalah ini salah seorang ulama' telah memberi jawaban, "Bila kebahagiaan itu semata reflek dari keinginan kita untuk melepaskan beban batin, melakukan rileksasi pasca tekanan psikologis (akibat disakiti atau dizalimi), maka yang demikian tak menjadi persoalan." (Fath al-Qarîb al-Mujîb 'alâ Tahdzîb al-Targhîb Wa al-Tarhib. Sayyid Alawî bin Abbas al-Mâlikî, hal. 194)

Disini ditekankan pentingnya menghargai, menghormati, bahkan memberi perhatian pada saudara kita sesama muslim. Meremehkan, mengabaikan, atau tidak memperdulikannya akan menjadi preseden buruk di dalam komunitas muslim itu sendiri. Bahkan sikap tersebut bisa menjebak diri pelaku pada pengaguman diri, kesombongan, dan kemaksiatan. Maksiat dalam wujud realitas sosial. Bila masih tetap tidak perduli, maka Allah Swt. akan mengujinya, memberi peringatan dengan suatu bala', dan di akhirat kelak akan mendapatkan balasan buruk lagi sengsara (QS. 42:42).


Alkisah, ada seorang saleh melihat seseorang di area thawaf yang diapit oleh beberapa pengawalnya. Mereka menghalangi khalayak ramai demi kelancaran thawaf orang tadi. Selang beberapa waktu kemudian, orang saleh tersebut kembali bertemu melihatnya berada di sebuah jembatan dekat kota Baghdad . Namun anehnya, kali ini tidak lagi didampingi oleh para pengawalnya. Malah ia sedang meminta-minta kepada setiap orang yang berlalu lalang di tempat itu. Orang saleh tersebut merasa heran dengan apa yang telah dilihatnya, sebuah kenyataan yang bertolak belakang dan begitu menyedihkan. Kemudian orang tadi berkata kepadanya, "Saya telah takabbur di tempat yang seluruh manusia merendahkan diri disana (Makkah), maka saat ini Allah menguji saya dengan kerendahan, kehinaan, di tempat yang setiap manusia beradu gengsi disini (Baghdad)." Allah Swt. berfirman:

فَلاَ تُزَكُّواْ أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ fمَن اتَّقَىٰ

"Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa." (QS. al-Najm: 32)

Maha Benar Allah dalam segala firman-Nya, tidak sepatutnya kita menilai diri sendiri baik, karena yang juga mengetahui titik noda pada wajah seseorang adalah cermin yang berada di dekatnya. Begitu pula halnya dengan cela, aib, atau kekurangan diri kita, tentu yang juga mengetahuinya adalah orang lain yang menjadi cermin bagi pribadi kita. Nabi saw. telah berpesan,

"Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepadaku agar kalian saling berendah diri, hingga jangan ada seseorang yang bertindak lalim terhadap yang lain, dan janganlah seseorang membanggakan dirinya terhadap orang lain." (HR. Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah dan lainnya)

Tak seharusnya ada diantara kita kesombongan dan tidak juga saling mendendam, menghina serta menganiaya antara satu dengan lainnya. Abu Zaid pernah menasehati, "Selama seorang hamba menyangka bahwa diantara makhluk ada yang lebih buruk dari dirinya, maka ia seorang yang sombong." Alangkah indah syair yang mengatakan:
"Rendah dirilah, maka engkau laksana bintang bersinar
terang di atas permukaan air, ia tetaplah menjulang.
Janganlah engkau umpamakan diri
sebagai asap membumbung tinggi sendiri di angkasa
yang tak pernah terangkat lagi." Wallâhu A'lam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar