Keakhwatan

mutiara hikmah

Jumat, 18 Juni 2010

Sebuah Kata Ganti Nama

Sebuah
Kata Ganti Nama
Aku subjek segala sesuatu. Aku mutakallim wahdah, yang bila memberi isyarat
dengan jari jemari akan menunjuk arah diri, ruh, atau tubuh sendiri. Meski
begitu, namun tetap saja aku hanya sebuah kata ganti nama.
Aku sebuah kata ganti nama. Meski sebuah kata ganti bagi orang pertama, namun tetap saja aku sebuah kata ganti nama.
Aku bisa menjadi baik, bisa juga menjadi buruk, bisa menjadi mulia, bisa juga menjadi hina, bisa menjadi shâlih, bisa juga mejadi thâlih, bisa menjadi tuan, bisa juga menjadi hamba sahaya, bisa menjadi kaya, bisa juga menjadi miskin papa, bahkan bisa menjadi apa saja. Meski begitu, namun tetap
saja aku hanya sebuah kata ganti nama.
Aku bisa sangat dibutuhkan, bisa juga tidak sangat dibutuhkan. Aku seperti bayang-bayang, hadir ketika ada cahaya, dan lenyap ketika gelap gulita. Aku bisa sangat diperhatikan, bisa juga tidak sangat
diperhatikan. Serasa ada, serasa tak ada. Bukan esensi, bukan hakikat, atau dzat, namun begitu dekat. Seakan hidup, namun mati. Seakan mati, namun hidup. Aku adalah petunjuk bagi segala sesuatu, Meski begitu, namun tetap saja aku hanya sebuah kata ganti nama.
Aku berusaha, namun ketika berhasil, aku tak disebut, hanya tinggal nama yang dipuji dan dibangga, karena aku hanya sebuah kata ganti saja. Aku menembus batas, tidak ruang, tidak juga waktu, di segala dimensi aku ada. Meski begitu, namun tetap saja aku hanya sebuah kata ganti nama.
Aku bukan kamu, dan juga bukan dia!

WAA. Ibrahimy
Makkah, 15 April 2009 M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar