Keakhwatan

mutiara hikmah

Senin, 07 Februari 2011

Peran Muslimah Sebagai Pencetak Generasi Masa Depan

oleh: Hazimah Nurmaulidah

"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Alloh menciptakan istrinya dan daripada keduanya Alloh memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak ..." (QS An Nissa': 1)

Merupakan sunatullah bahwa diciptakannya manusia berpasang-pasangan untuk saling membantu dan bekerjasama dalam menjalani hidupnya. Dari dua jenis manusia ini Alloh memperbanyak jumlah manusia. Aktifitas ini sekaligus dinilai sebagai ibadah oleh Alloh jika manusia melakukannya dengan niat yang benar dan sesuai syari'at.

Dan alangkah indahnya apabila generasi yang dihasilkan adalah generasi yang baik yang akan menegakkan kalimat Alloh di bumi ini. Kita perlu mempersiapkan generasi islam masa depan yang mampu menghadapi tantangan perubahan jaman yang semakin hari mewarnai kehidupan masyarakat Islam. Kehadiran teknologi modern dan pergeseran gaya hidup masyarakat menambah urusan tugas yang harus ditangani oleh pencetak generasi masa depan. Siapa lagi kalau bukan muslimah sebagai ibu yang melahirkan mereka?

Kehancuran tatanan kehidupan masyarakat adalah ancaman yang harus dihadapi. Karena memang begitulah kenyataannya. Masyarat telah memilih dan memang dikondisikan untuk bergaya hidup materialistik akibat suksesnya penerapan paham kapitalis. Berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini, muslimah sebagai pendidik generasi masa depan harus ekstra waspada dalam membimbing dan mengarahkan putra-putrinya agar tetap konsisten dengan aturan Islam dan tetap merasakan kehadiran keluarga serta tidak merasa diterlantarkan.

Kita melihat bahwa kehadiran teknologi modern telah sedikit banyak menggantikan peran orangtua dalam mendidik anaknya. Anak-anak banyak mendapatkan pengetahuan dari TV yang notabene banyak dimasuki nilai-nilai diluar Islam. Fenomena yang terjadi sekarang ini, sangat jarang orang tua yang mengantarkan tidur anaknya dengan bercerita, misalnya tentang pahlawan Islam. Sehingga ruang diskusi antara anak dan orang tua juga semakin sempit. Atau fenomena lainnya, jarang melakukan silaturahmi ke sanak famili karena merasa sudah cukup hanya dengan berbicara melalui telepon.

Untuk mencetak generasi masa depan, kita harus kembali merujuk kepada satu-satunya alternatif rujukan hidup kita yaitu Al Qur'an dan As Sunnah. Muslimah harus menyadari perannya sebagai manusia yang ditakdirkan memiliki semua hal yang ada pada diri wanita dan mempunyai pengaruh yang besar untuk generasi yang dilahirkannya. Masalahnya, tidak semua wanita menyadari hal itu. Untuk menjadi sosok muslimah yang diandalkan dalam membentuk generasi masa depan memerlukan bekal ilmu yang tidak sedikit. Hal ini seringkali tidak memdapat perhatian yang serius, baik dari kalangan pendidik maupun muslimah itu sendiri. Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Lalu bagaimana mungkin sebuah sekolah dapat mendidik muridnya, bila sekolah tersebut tidak memiliki gudang ilmu. Apa yang akan diajarkan pada mereka? Itulah gambaran seorang muslimah sebagai ummahat bagi generasi masa depan.

Pemikiran tradisional yang mengatakan bahwa tugas wanita yang sudah berumah tangga hanya sebagai "teman belakang" laki-laki, seringkali masih tertanam di benak muslimah dan masyarakat pada umumnya. Akibatnya, ada masyarakat yang berpendapat bahwa untuk mengurusi rumah tangga dan mengerjakan berbagai tugas rumah tangga tidak memerlukan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Padahal menghasilkan generasi masa depan yang baik termasuk salah satu tugas dan justru yang terpenting.

Menurut Imam Ghozali, kaum wanita tidak cuma harus tahu urusan agama seperti sholat, puasa, dan urusan ibadah lainnya, tetapi juga urusan lain yang lebih luas daripada urusan laki-laki. Antara lain menyangkut kebudayaan Islam di bidang hukum, adab, akhlak, pendidikan anak, perlakuan terhadap suami dan perilaku lainnya yang baik.

Mendidik anak ada ilmunya dan orang tua terutama ibu sangat berperan di dalamnya. Apalagi dengan gejolak perkembangan jaman seperti sekarang ini. Karena dari rumahlah mereka pertama kali mendapat pengetahuan yang diberikan oleh orangtuanya. Maka jika wanita yang sudah ditugasi sebagai ibu juga bekerja di luar rumah, akan banyak sekali waktu yang terbuang sehubungan dengan perannya mendidik anak dan generasi masa depan yang baik juga kecil kemungkinannya untuk terwujud. Al Qur'an mengatakan bahwa tempat wanita adalah di rumah. "dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu behias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Alloh dan RasulNya ..." (QS Al Ahzab: 33). Maksud dari 'tetap di rumah' adalah perintah pada istri-istri Nabi untuk tidak keluar rumah kecuali bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'. Tapi perintah ini juga meliputi segenap mu'minat, tidak hanya istri-istri nabi.

Hikmah yang dapat kita ambil diantaranya bahwa untuk mencetak generasi masa depan yang baik memang dimulai dari rumah dengan orangtua sebagai pendidik sebelum nantinya mereka terjun ke masyarakat. Muslimah sebagai pendidik diharapkan dapat merespon segala fenomena yang dialami anak di luar rumah, agar anak tetap terarah dalam kerangka kehidupan yang Islami. Tugas ini tidak mudah dan harus diimbangi dengan adanya wadah bagi muslimah untuk mendapatkan pendidikan dan tambahan ketrampilan sekaligus dapat mengaplikasikan untuk keluarganya. Wadah tersebut harus kondusif dengan segala keterbatasan gerak muslimah. Sehingga potensi-potensi yang ada pada diri muslimah dapat teraktualisasi tanpa terbentur kondisi dan situasi.

Harus ada kerjasama yang baik antara suami dan istri dalam mendidik anak. Di sinilah peran muslimah sebagai manajer rumah tangga yang merencanakan, mengelola berbagai tugas, mengaktualisasikan serta mengendalikan jalannya rumah tangga agar tidak menyimpang dari aturanNya, selaran dengan tujuan keluarga dan kebijakan-kebijakan suami sebagai direktur rumah tangga sehingga tercetak generasi yang baik sesuai Al Qur'an dan As Sunnah.

Pesan untuk muslimah calon ummahat, banyak-banyaklah menuntut ilmu dan setelah menjadi ummahat, jangan berhenti mencari ilmu.

Wallahua'lam bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar